Sistem kerja di PT Mayora menjadi perhatian utama bagi pelamar kerja di industri makanan dan minuman, karena berkaitan langsung dengan pengaturan waktu kerja, jadwal penempatan di site, sistem shift dan periode istirahat karyawan.
Di dalam artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada sistem roster kerja PT Mayora, termasuk pola kerja, mekanisme rotasi, serta informasi penting lainnya yang perlu dipahami oleh calon pelamar.
Profil Singkat PT Mayora Indah Tbk

PT Mayora Indah Tbk adalah perusahaan makanan dan minuman (FMCG) yang berdiri sejak tahun 1977 dan dikenal memiliki portofolio produk yang luas.
Kantor pusat perusahaan berada di Gedung Mayora, Jalan Tomang Raya Kavling 21–23, Jakarta Barat, dengan beberapa fasilitas pabrik, salah satunya berlokasi di Jatake, Tangerang.
Pemegang saham utama PT Mayora Indah Tbk meliputi PT Unita Branindo, PT Mayora Dhana Utama, serta Jogi Hendra Atmadja sebagai pemilik saham dengan porsi signifikan.
Dari sisi tenaga kerja, jumlah karyawan grup per 31 Desember 2023 tercatat sebanyak 15.296 orang. Secara umum, jumlah karyawan menunjukkan pertumbuhan rata-rata sekitar 2 persen per tahun.
Sistem Kerja PT Mayora Per-Divisi
Struktur organisasi PT Mayora terbagi ke dalam beberapa divisi utama dengan karakteristik pekerjaan yang berbeda. Berikut gambaran divisi dan posisi yang umum ditemukan:
1. Sistem kerja karyawan produksi
Karyawan produksi cenderung memakai sistem shift karena mesin, line, quality control, gudang bahan baku, packaging, hingga loading membutuhkan alur kerja stabil.
Fokus utama berada pada ketepatan standar mutu, keselamatan kerja, pencapaian output, serta disiplin SOP. Ritme kerja terasa lebih fisikal, apalagi pada periode permintaan tinggi.
2. Sistem kerja staf kantor
Sistem kerja di PT Mayora pada staf kantor lebih sering non shift dengan jam kerja reguler. Fungsi kantor mencakup finance, HR, procurement, marketing, sales support, legal, IT, hingga manajemen operasional. Tekanan kerja biasanya berbentuk deadline laporan, target penjualan, koordinasi lintas departemen, serta kontrol kepatuhan proses.
3. Sistem kerja lapangan
Sebagian peran lapangan dapat muncul pada area distribusi, sales, merchandiser, driver, teknisi, atau fungsi operasional yang menempel lokasi. Pola jam kerja bisa mengikuti area rute, jam operasional pelanggan, atau SLA layanan. Sistem shift dapat terjadi pada gudang, logistik, atau titik distribusi yang beroperasi panjang.
Jam Kerja dan Pembagian Shift
Sistem kerja di PT Mayora pada divisi produksi menggunakan pembagian shift untuk menjaga kelancaran proses operasional.
Jadwal kerja dibagi menjadi shift pagi pukul 07.00–15.00, shift sore pukul 15.00–23.00, dan shift malam pukul 23.00–07.00 dengan pola rotasi mingguan.
Sementara itu, staf kantor umumnya bekerja dengan jam kerja reguler pukul 08.00–17.00. Penyesuaian jam kerja dapat diterapkan pada unit tertentu seperti sales, distribusi atau fungsi lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan operasional.
Hari Kerja dan Libur
Pengaturan hari kerja biasanya mengikuti kebutuhan fungsi kerja. Dengan skema yang sudah ditentukan sebagai berikut:
1. Skema 5 hari kerja
Sering terjadi pada staf kantor. Fokus produktivitas senin sampai jumat. Akhir pekan dipakai pemulihan energi atau kebutuhan keluarga.
2. Skema6 hari kerja
Sering ditemui pada unit yang menuntut layanan lebih panjang atau dukungan produksi tertentu. Hari sabtu dapat berupa jam lebih singkat, tergantung kebijakan lokasi.
3. Skema rolling libur pada kerja shift
Divisi produksi sering memakai pola rolling, sebab line produksi berjalan lintas hari. Libur bergeser mengikuti rotasi tim. Mekanisme ini menjaga keseimbangan tenaga kerja tanpa menghentikan proses produksi.
4. Skema libur nasional
Unit non shift cenderung lebih mudah mengikuti kalender libur nasional. Unit shift biasanya memiliki pengaturan pengganti, termasuk opsi kerja saat tanggal merah dengan kompensasi sesuai kebijakan serta ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
Sistem Lembur

Sistem kerja di PT Mayora dalam konteks perhitungan lembur biasanya muncul saat target produksi meningkat, ada kendala mesin, pesanan mendadak, proses loading tertunda, atau penutupan periode laporan pada fungsi kantor.
1. Lembur bersifat situasional
Kebutuhan lembur diputuskan atasan langsung berdasarkan kondisi target, risiko berhentinya line, atau deadline operasional.
2. Perhitungan lembur
Perhitungan lazimnya berbasis jam lembur. Sebagian unit menerapkan aturan internal tambahan terkait minimal jam, batas maksimum, mekanisme persetujuan.
3. Pembayaran lembur
Pembayaran umumnya mengikuti ketentuan perundang undangan ketenagakerjaan yang berlaku serta prosedur internal perusahaan. Dokumen absensi, form lembur, persetujuan atasan menjadi dasar administrasi.
Status Karyawan dan Sistem Kontrak
Sistem kerja di PT Mayora terkait status hubungan kerja umumnya terbagi menjadi PKWT, PKWTT, serta kemungkinan penggunaan outsourcing pada fungsi tertentu, tergantung kebutuhan perusahaan. Dengan penjelasan sebagai berikut:
1. PKWT
PKWT biasanya dipakai pada kebutuhan kerja periode tertentu, penambahan kapasitas, proyek, atau masa penilaian awal sesuai ketentuan. Durasi kontrak dapat bervariasi dan perpanjangan mengikuti evaluasi kinerja, kebutuhan unit, serta kebijakan perusahaan.
2. PKWTT
PKWTT mengarah status karyawan tetap setelah memenuhi ketentuan perusahaan, evaluasi, serta kebutuhan organisasi. Jalur menjadi PKWTT umumnya membutuhkan konsistensi performa, kedisiplinan, kepatuhan SOP, serta rekomendasi atasan.
3. Outsourcing
Outsourcing dapat muncul pada pekerjaan penunjang tertentu. Detailnya sangat bergantung peran, lokasi, serta vendor yang bekerja sama.
Lingkungan dan Beban Kerja
1. Disiplin dan standar kerja
Sistem kerja di PT Mayora menuntut kedisiplinan tinggi, ketahanan ritme kerja, serta fokus kualitas produk karena industri FMCG sangat sensitif terhadap konsistensi rasa, keamanan pangan, ketepatan distribusi, serta kepatuhan standar operasional.
2. Lingkungan kerja produksi
Tekanan kerja meningkat saat target output tinggi. Beban fisik muncul akibat aktivitas berdiri lama, gerakan berulang, kebisingan mesin, suhu area produksi, serta tuntutan ketelitian. Kondisi ini cocok bagi kandidat dengan stamina baik, fokus detail, patuh prosedur, siap bekerja tim.
3. Lingkungan kerja kantor
Tekanan kerja berasal dari target, tenggat waktu, serta koordinasi lintas departemen. Karakter kerja ini sesuai bagi individu dengan kemampuan administrasi rapi, komunikasi baik, analisis kuat, pengelolaan prioritas efektif, kesiapan menghadapi dinamika operasional.
Kesimpulan
Sistem kerja di PT Mayora terbagi jelas berdasarkan fungsi kerja. Divisi produksi menggunakan sistem shift 24 jam dengan jam kerja 07.00–15.00, 15.00–23.00, dan 23.00–07.00, disertai rotasi dan libur bergilir agar operasional pabrik tetap berjalan. Staf kantor bekerja dengan jam reguler 08.00–17.00 tanpa sistem shift.
Secara umum, roster kerja PT Mayora mengkombinasikan shift bergilir untuk produksi dan jam kantor untuk non-produksi, disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing unit.
Baca Juga: Sistem Kerja PT Gloria Bisco Gresik Terbaru, Lengkap Beserta Jam Kerja, Shift dan Kontrak Karyawan


